Senin, 13 April 2020

Materi dan Tugas Aqidah Ahlak Kelas XI Agama Pertemuan IV Daring


ABDURRAHMAN BIN AUF
Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Muhammad?”
Suatu hari, saat kota Madinah sedang dalam suasana aman dan tenang, terlihat dari tempat ketinggian di pinggir kota debu tebal yang mengepul ke udara. Debu itu semakin meninggi bergumpal-gumpal hingga hampir menutup angkasa. Angin bertiup menyebabkan gumpalan dari butiran-butiran pasir sahara yang lembut dan terbang menghampiri pintu-pintu rumah di Madinah, dan berhembus dengan kuatnya jalan-jalan.
Orang-orang menyangka ada badai yang menyapu dan menerbangkan pasir tetapi, kemudian dari balik tirai debu itu mereka mendengar sebersit kabar tentang kedatangan kafilah besar yang panjang. Tidak lama kemudian, tujuh ratus kendaraan sang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan dan menguncang Madinah. Orang-orang saling memanggil dan mengajak sesamanya untuk menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira atas kedatangan harta dan rezki yang dibawah kafilah itu.
Ummul Mukminin Aisyah, ketika mendengar suara hiruk pikuk kafilah yang bergerak maju itu bertanya, “apakah yang terjadi di Kota Madinah?”
Ada yang menjawab, “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya.”
“Jadi, Kafilah itu yang telah menyebabkan semua guncangan ini?” tanya Ummul Mukminin.
“Benar, wahai ummul Mukminin. Jumlahnya tujuh ratus kendaraan. “Ummul Mukminin menggelekkan kepalanya.
Pandangannya menerawang jauh seolah-olah sedang mengingat-ingat peristiwa yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.
Kemudian ia berkata, ”Aku pernah mendengar rasulullah bersabda, ‘aku melihat Abdurraman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak? Mengapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari-lari kecil bersama angkatan pertama para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam? Sebagian sahabat menyampaikan cerita Aisyah kepadanya, maka iapun teringat telah mendengarkan hadis nabi Sallallahu Alaihi Wasallam lebih dari satu kali dan dengan redaksi yang berbeda-beda.
Sebelum tali-tali pengikat perniagaannya di lepas, Abdurrahman melangkahkan kakinya kerumah Aisyah lalu berkata kepadanya, “engkau telah mengingatkanku suatu hadis yang tidak pernah kulupakan. Maka saksikanlah bahwa kafilah ini dengan semua muatannya beserta kendaraan dan perlengkapannya, aku persembahkan dijalan Allah Azzawajallah” tammbahnya. Seluruh muatan tujuh ratus kendaraan itu dibagi-bagikan kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang agung.
Peristiwa yang satu ini saja, sudah cukup untuk mengukir sebuah gambaran yang sempurna tentang kehidupan sahabat Rasulullah, Abdurrahman bin Auf. Dialah saudagar yang sukses lebih sukses daripada kesuksesan yang pernah ada. Dia merupakan orang kaya dengan kekayaan yang melimpah ruah. Dia adalah seorang mukmin yang bijaksana, yang tidak ingin bagian dari keuntungan agamanya hilang begitu saja dan tidak sudi kekayaannya membuat dirinya tertinggal dari kaflah iman dan pahala surga. Untuk itu, ia mendermakan harta kekayaanya dengan kemurahan hati dan kesadaran nurani.
Kapan dan bagaimana proses keislaman orang besar ini? Ia masuk Islam sejak fajar menyinsing, ia telah memasukinya permulaan dakwah yakni sebeleum Rasulullah memasuki darul Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para sahabatnya yang beriman.
Ia adalah salah seorang dari 8 orang yang lebih awal masuk Islam. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam termasuk kepada Usman bin Affan, Azubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Saad bin Abu Waqqash. Tidak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tiada keraguan, yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar As-Sidiq menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam untuk menyatakan baiat dan memikul bendera Islam.
Sejak menganut Islam sampai berpulang ke rahmatullah dalam usia 75 tahun, ia selalu menjadi teladam yang cemerlang sebagai seorang mukmin yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyebutkannya dalam sepuluh orang yang diberi kabar gembira sebagai ahli surga oleh Allah Azzawajallah. Umar mengangkatnya sebagai anggota majelis syura yang terdiri dari enam orang, yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya. Kala itu umar berpesan, rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.
Cepatnya Abdurrahman masuk Islam itu menyebabkan dirinya harus mengalami penganiayaan dan penindasan dari Quraisy. Ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabatnya hijrah ke Habasyah, Abdurrahman bin Auf pun ikut berhijrah, ia kemudian kembali lagi ke Mekkah, lalu hijrah untuk kali kedua ke Habasyah, kemudian selanjutnya Hijrah ke Madinah. Ia ikut bertempur di perang Badar, Uhud, dan peperangan-peperangan lainnya.
Keuntungannya dalam perniagaan sangat besar hingga mencapai batas yang membuat dirinya sendiri merasa takjub dan heran, sehingga ia berkata, “sungguh, aku melihat diriku ini seandainya mengangkat batu dengan izin Allah niscaya kutemukan emas dan perak di bawahnya.
Perniagaan Abdurrahman bin Auf bukanlah jenis perdagangan yang tercela maupun monopoli. Bahkan, ia sendiri bukanlah orang yang suka untuk mengumpulkan harta atas dorongan agar menjadi orang kaya. Sekali-kali bukan itu, melainkan suatu amal dan kewajiban yang keberhasilannya akan menambah kedekatan jiwa kepada Allah dan berkorban dijalannya.
Abdurrahman bin Auf seorang yang kuat emosi jiwanya di mana ia menemukan kepuasan emosinya itu dalam amal yang mulia dimana berada. Apabila ia tidak sedang shalat di Masjid dan tidak sedang berjihad dalam peperangan, ia pasti sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, sehingga kafilah-kafilahnya dari mesir dan Syria membawa ke Madinah barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh Jazirah Arab, baik pakaian maupun makanan.
Yang menunjukkan kepada kita bahwa ia seorang yang kuat emosi jiwanya adalah ketika kaum muslimin Hijrah ke Madinah. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pada waktu itu menerapkan aturan untuk mempersaudarakan dua orang sahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekkah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah. Persaudaraan ini berjalan dengan sempurna hingga membuat hati terpesona. Orang-orang Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah membagi seluruh kekayaan miliknya menjadi dua dengan saudaranya dari kalangan Muhajirin, bahkan istri pun direlakan apabila beristri dua, ia pun rela menceraikan satu untuk diperistri saudaranya.
Ketika itu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang mulia mempersaudarakan antara Abdurahman bin Auf dengan sa’ad bin rabi. Marilah kita dengarkan sahabat yang mulia, anas bin Malik mengisahkan kepada kita apa yang terjadi.
Sa’ad berkata kepada Abdurrahman “Saudaraku aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak harta. Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah. Aku juga mempunyai dua istri, perhatikanlah yang lebih menarik hatimu dan aku akan menceraikannya, sehingga engkau dapat memperistri darinya.”
Abdurrahman binAuf menjawab, “semoga Allah memberkahi dirimu dalam Istri dan hartamu. Tunjukkanlah letak pasar keadaku”.
Abdurrahman pergi kepasar, ia berjual beli di sana dan mendapatkan keuntungan.
Kehidupan Abdurrahman bin Auf di Madinah, baik semasa rasulullah maupun sepeninggal beliau, selalu ditunaikan dengan sempurna untuk memenuhi hak din ini dan beramal di dunia. Perniagaannya sukses dan menguntungkan. Seperti diungkapkannya sendiri bahwa seandainya ia mengangkat batu dari tempatnya, InsyaAllah ia pasti mendapatkan emas dan perak di bawahnya. Salah satu faktor yang membuat perniagaannya berhasil dan mendapatkan berkah adalah karena ia sangat selektif untuk berniaga yang halal dan benar-benar menjauhkan diri dari segala bentuk jual beli yang haram,  bahkan yang syubhat.
Selain itu faktor yang menambah kejayaan dan keberkahan adalah labanya yang bukan untuk Abdurrahman bin Auf  sendiri, melainkan di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan baik. Ia menggunakan hartanya unuk memperkokoh hubungan kekeluargaan dan mengeratkan tali persaudaraan, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam.
Bila total perniagaan dan kekayaan yang lainnya ditambah keuntungan yang diperolehnya di hitung, jumlah kekayaan Abdurrahman bin Auf itu dapat diperkirakan dengan memperhatikan jumlah yang dibelanjakan di jalan Allah, rabb semesta alam. Suatu hari ia mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda ”wahai Ibnu Auf, engkau termasuk golongan orang kaya dan engkau masuk surga dengan merangkak. Karena itu, pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, agar dia mempermudah langkahmu”
Sejak ia mendengar nasihat rasulullah ini dan menyediakan bagi Allah pinjaman yang baik, Allah justru semakin melipat gandakan kekayaannya hinga berlimpah. Suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagika semua untuk keluarganya dari bani Zuhrah, untuk para istri Nabi, dan untuk kaum muslimin yang miskin.
Pada kesempatan lain, ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan perang tentara Islam. Pada hari yang lain, ia menyerahkanseribu lima ratus kendaraan (unta).
Menjelang wafat, ia mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diinfakkan di jalan Allah. Ia juga berwasiat bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing mendapatkan 400 dinar, hingga Utsman bin Affan juga mengambil bagian dari wasiat itu, meskipun termasuk orang kaya. Ia berkata, “Harta Abdurrahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa keselamatan dan keberkahan”.
Ibnu Auf adalah seorang yang mengendalikan hartanya, bukan dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak menyimpannya. Bahkan ia mengumpulkannya dengan tetap merendahkan hati dan dari jalan yang halal. Kemudian harta itu ia tidak nikmati untuk kepentingan sendiri. Melainkan untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, rekan-rekan sahabat, dan masyarakat seluruhnya.

Keterangan :
Berdasarkan kisah sahabat yang mulia di atas, Hikmah apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut?
Jawaban dapat di kirim melalui WA, dengan mencantumkan nama yah!!

Tugas di jawab di kolom komentar di bagian bawah dengan menulis nama,
Jasakumullakhairan
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar